Home » » Dari Sebutir Pasir

Dari Sebutir Pasir

Oleh Een ‘Ainun Kurnia

ALAM DAPAT DIJADIKAN alternatif  bacaan yang paling mengasyikkan selain buku. Dari alam, kita akan mendapatkan berbagai sumber inspirasi tak bertepi yang dapat kita gali dan kaji. Setiap saat, alam pun  senantiasa terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca dan membutuhkan suplay ekstra ‘tenaga dalam’ guna memulihkan kembali motivasi yang menyurut setelah beberapa waktu, bahkan drastis menurun.

Sikap menyatu dengan alam, dengan kata lain dapat pula diartikan bersahabat dengan alam.  Merupakan salah satu upaya dalam menghidupkan semangat. Melalui perenungan sejenak, kita dapat menghalau segala kejenuhan baik fisik maupun pikiran yang memicu rasa suntuk, lesu dan tak bergairah dalam beraktivitas. Dengan menafakuri alam juga, sehingga kita dalam menyegarkan kembali jiwa dan pikiran tak hanya untuk beberapa saat. Jika fisik dan pikiran telah kembali segar, maka akan dapat lebih memudahkan dalam membaca, memahami, menelaah dan mengkaji ulang secara lebih dalam, utuh dan murni, baik terkait dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi maupun terkait langsung dengan kekayaan alam, dengan lebih bersemangat.

Begitu banyak kekayaan alam yang dapat dijadikan objek sekaligus santapan lezat sekaligus sumber bacaan nikmat yang siap dilahap. Berbagai kekayaan alam ini dapat ditemukan di laut, darat maupun udara. Misalnya : sehelai daun kering yang jatuh melayang ke tanah, sebongkah batu karang berdiri kukuh di tengah lautan, biduk yang menggantung di langit, hantaman ombak, siulan angin, hamparan pasir dan lain sebagainya.

Di antara deretan fenomena tersebut, saya tertarik pada pasir. Seperti kita ketahui bahwa hamparan butir-butir pasir ini tak hanya ditemukan di daerah-daerah gurun namun dapat pula ditemui di tepi pantai-pantai, salah satunya seperti pantai Pangandaran. Walau tanpa ikut serta rombongan yang menyisir pantai Pangandaran, namun mari kita  mencoba untuk membaca tanda dari sebutir pasir tersebut. Lantas, adakah  hal menarik dari sebutir pasir  mungil yang berukuran antara 0,0625 sampai 2 milimeter ini ?

Tentu saja banyak. Karena tidaklah semata-mata Yang Maha Pencipta menciptakan sesuatu jika tak ada yang dapat diambil sesuatu hikmah atau manfaat darinya. Ya, bila kita menyisir bibir pantai, hamparan pasir tersebut akan kita jumpai, di samping pasir yang kita kenal sering dijadikan bahan bangunan untuk rumah tinggal. Ada yang berwarna cokelat kehitaman, ada juga yang berwarna putih. Bila kita amati seksama, fenomena sekelilingnya laksana lukisan nyata, yang merupakan maha karya alam nan menakjubkan, dengan  perpaduan warna-warna natural—yang dianugerahkan sang Pencipta kepada manusia. Pelukis kelas dunia sekalipun tak akan mampu melukiskan keindahannya. Amazing! Dari sebutir pasir, dapat menjadi komponen penting bagi atribut estetika alam lainnya. Apalagi sesekali pasir-pasir itu terhempas ombak yang menggelung-gelung. Jelas sekali terlihat butiran-butirannya berkilauan karena permukaannya tampak basah dan mengkilam.

Terbayangkah, jika hanya sebutir pasir saja yang ada di permukaan? Atau dengan segenggam saja dalam kepalan? Ya, sama sekali tak berfungsi dan memberi arti apa-apa. Bahkan kemungkinan dianggap tak ada dan nyaris menjadi sesuatu yang sia-sia. Lain halnya tatkala butiran-butiran pasir tersebut berhimpun menjadi satu hamparan yang membentang laksana lautan, terlihat nampak indah sekali. Namun ada hal yang sangat penting dari sekedar sebutir pasir ini.

Suatu ketika, adalah seorang yang bertanya dengan nada meledek pada Iyas bin Muawiyyah Al Muzanni tentang alasan diharamkannya khamar, sedangkan dia hanyalah anggur yang dicampur air, dimasak dan didiamkan beberapa lamanya. Dengan kecerdasan dan keshalehan Iyas bin Muawiyyah Al Muzanni, seorang pejabat hakim tertinggi yang sangat adil, tegas dan amanah di kota Bashrah yang menggantikan khalifah Umar bin Abdul Aziz, menjawabnya.

“Kalau kupercikkan air tubuhmu dengan air, sakit tidakkah?”
“Ya, tidaklah...”
“Kalau kupercikkan tanah pada tubuhmu, sakitkah?”
“Tidak.”
“Kalau, kupercikkan dengan sedikit pasir?”
“Tidak juga…”
“Kalau sekarang, air, tanah dan pasir itu aku campur, ku olah hingga menjadi batu bata dan kupercikkan bata itu ke tubuhmu, sakitkah?”
“Tentu saja sakit sekali.”
“Hasilnya berbeda kan? Meski awalnya adalah sama-sama air, tanah dan pasir? Begitu pula dengan khamar yang kau katakan hanya sekedar campuran air dan anggur.”

***

DARI KISAH DI atas, dapat diambil sebuah esensi bahwa betapa pasir ini tidak memberi sesuatu yang signifikan, tak berarti apa-apa dan tidak berdampak apapun selain hanyalah tak lebih sebagai sebutir pasir. Tetapi manakala dia berpadu dengan komponen lain seperti air, semen, tanah dan lainnya, dia menjadi kokoh. Dan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dia bukan lagi sebagai sesuatu yang mudah terhempas oleh badai dan gelombang.

Jika serpihan tersebut diibaratkan itu adalah hati kita, hati yang teguh, hati yang senantiasa diisi dengan perbuatan baik, hati tidak mudah rapuh, tidak mudah menyerah dengan keadaan dan tidak mudah berputus asa. Dia akan selalu siap dengan berbagai keadaan. Terpaan sekalipun. Tidak akan mudah terhempas. Tapi tetap survive dengan situasi sulit, terhimpit dan rapuh. Kerapuhan, dapat berimbas pada mudah melemahnya semangat hidup. Semangat merupakan motor penggerak utama bagi kelangsungan hidup, baik menyangkut personal, kelompok maupun suatu aktivititas tertentu. Sebaliknya bila semangat ini hilang—layaknya menulis di atas pasir—sesuatu yang sia-sia karena mudah sekali terhapus bahkan hilang tanpa bersisa jejak  sedikitpun, tak ayal akan dapat berdampak lebih fatal bagi diri sendiri. Maka agar percikan api semangat tetap bersemayam dalam dada, teguh dan menguatkan hati adalah kunci utamanya.

Begitulah, kita dapat membuat analog dari sebutir pasir pada kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengais makna tersirat dan tersurat di dalamnya. Dari sebutir pasir, kita dapat belajar untuk menghindarkan jiwa dari kerapuhan menuju jiwa yang kokoh dan tangguh penuh ke-tawadhu-an. Dari sebutir pasir, kita dapat belajar betapa pentingnya arti persatuan. Persatuan yang mustahil terbentuk tanpa ditopang kesatuan hati dari setiap individu yang terlibat di dalamnya. Dari sebutir pasir, kita belajar merintis melakukan perbuatan baik walau sebesar butir pasir, menikmati prosesnya secara bertahap hingga terus berupaya berkonsisten diri dalam kebaikan, sehingga dari yang sebutir pasir tadi akan menghimpun menjadi hamparan kemanfaatan tak hanya bagi diri sendiri melainkan juga bagi orang-orang di sekitarnya. Dari sebutir pasir pula, sekuat tenaga kita berupaya menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak baik alias tidak mengakrabi perbuatan buruk, karena berawal dari perbuatan yang kita anggap temeh, lambat laun akan menjadi kebiasaan, setelah kebiasaan kental dilakukan maka akan mengarakter dan mengakar dalam diri kita. Dan bila hal itu terjadi, maka bersiaga dan bersegeralah menyalakan lampu kuning, sebelum jauh terjerembab pada jurang pengabaian kesalahan dan dosa yang semakin curam. Naudzubillah!

Demikianlah begitu baiknya alam raya ini dapat berbagi hikmah dan keilmuan, asalkan kita tak enggan mengkajinya. Yang pasti, semua ini tidaklah akan dapat mudah kita peroleh selain dengan mencoba, berusaha dan terus berusaha mengeruk segala potensi  dengan membaca tanda yang alam suguhkan untuk kita. Semoga bermanfaat.***

EEN 'AINUN KURNIA
Forum Lingkar Pena Karawang
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2013. Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Barat - All Rights Reserved